Cerita Cinta : Cerbung – Andai Cinta itu Nyata Part 1

Cerita Cinta – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Cerita kali ini penulis akan membagikan cerpen dari cerbung yang berjudul “Andai Cinta itu Nyata”. Cerita ini juga adalah sebuah kisah cinta yang dikarangg oleh tema saya.

Nah.. oleh karena itu silahkan kunjungi dan follow akun instagramnya dengan mengeklik link ini, barronsy22.

Cerita Cinta

By : Didik Santoso

Andai cinta itu nyata

Andai Cinta itu Nyata

Namaku Reza Oktavian, Aku adalah seorang penjual buku online sekaligus riviewer buku di blog pribadiku dan juga di chanel Youtube. Pagi ini aku menggunakan jasa pengiriman barang untuk mengantar buku pesanan orang yang tak jauh dari tempat tinggalku. Biasanya aku mengantar ke pelanggan untuk tempat yang jauh bahkan diluar pulau jawa, namun akhir-akhir ini aku kebanjiran pelanggan di dekat rumah saja, masih sekota denganku.

Setelah aku selesai mengantar hampir seratus buku ke masing masing alamat, aku duduk memikirkan tentang kenapa tiba-tiba bisa membeludak orang-orang pesan buku secara mendadak, yang membuat aku heran mereka sekota denganku. Lama aku memikirkan hal ini ada sebuah pesan masuk di Facebook.

“Sudah diantar pesanan bukunya?”

Aku tidak langsung membalas pesan tersebut, namun aku telusuri orang yang mengantar pesan itu. Aku masuk ke profilnya, aku melihat statusnya, melihat foto-fotonya. Dia cantik jika dilihat dari fotonya, dia cerdas jika dilihat dari status yang ia tulis. Aku kemudian membalasnya.

“Maaf ini siapa ya?”

“Aku Sasmita,” Dia membalas

“Yang pesan buku itu ya?” Ku balas lagi.

“Iya, gimana banyak yang pesan lagi nggak?”

“Iya nih, tiba-tiba banyak banget yang pesan daerah Lamongan sini aja.”

“Alhamdulillah, soalnya aku bantuan promo di teman-teman kuliah, SMA, SMP, SD juga, pokonya ke semua grup dan kontak yang ada di HP-ku, kalau banyak yang minat ya Alhamdulillah deh ikut senang Akunya.”

Aku kemudian berfikir sejenak, apa motivasi perempuan ini membantuku mempromosikan buku-buku yang ku jual, padahal kita tidak saling kenal apa lagi saling bertemu.

“Terimakasih banyak ya, maaf merepotkan.” Ku balas.

“Iya nggak apa-apa, sama-sama.”

Percakapanku di Facebook berhenti sampai di situ. Kemudian karena masih penasaran dengan perempuan misterius ini ku kunjungi profil Facebooknya lagi. Aku mulai melihat foto-fotonya yang random, kadang pakai jilbab dengan caption islami dan kadang juga tidak memakai jilbab dengan pakaian yang masih termasuk sopan dengan caption kata-kata bijak. Aku juga melihat komentar di foto-foto itu, banyak yang memujinya tapi tak ada satupun yang dibalas, tapi kalau yang memuji adalah orang yang ia kenal maka Sasmita akan membalas dengan humor dan santun. Statusnya masih lajang, dia lebih tua dariku satu tahun. Siapakah perempuan ini? Masih jadi tanda tanya dibenaku.

Dia masih online.

“Kalau tidak keberatan, aku boleh nggak traktir kamu makan, sebagai tanda terimakasihku?”

Pesan itu hanya dilihat olehnya kemudian dia sudah meninggalkan obrolan dan sedang tidak aktif. Saat itu aku merasa bodoh dan malu, kenapa aku terburu-buru sekali, aku sudah baper duluan. Aku menutup mukaku dengan bantal dan aku berteriak sekencang mungkin, merasa jadi manusia paling bodoh sedunia.

Sudahlah, lagi pula aku tidak kenal denganya, lebih baik aku mengurus bisnis jual buku ini saja. Stok yang ada dirumahku mulai menipis sejak kebanjiran pembeli secara mendadak, ini berkat Sasmita, kalau memang benar apa yang dia katakan. aku menghubungi distributor buku untuk mengirim ke rumah buku yang lagi dicari orang, kebanyakan dari mereka para remaja akan mencari buku fiksi. Saat itu aku memesan banyak buku fiksi.

Selang beberapa lama lagi aku mengecek Facebooku, dan ku lihat Sasmita sedang online kembali.

“Boleh, kalau kamu ihklas,” dia membalas.

Hatiku rasanya berbunga-bunga seketika, aku belum pernah bertemu dia sebelumnya tapi hati rasa tak menentu seperti ini, agak lebay sih ya.

“Kamu bisanya kapan?” tanyaku.

“Gimana kalau setelah Zuhur?”

“Boleh. Mau ketemu di mana?” ku tanya lagi.

“Di Best Cafe dekat pantai pasir putih gimana? Kamu kejauhan nggak?”

“Lumayan, tapi nggak apa-apa kok.”

“Kamu jemput aku di rumah ya, nanti aku kirimin lokasinya.”

“Aku cuma pakai motor,” ku balas seperti itu, takutnya dia tidak terbiasa naik motor karena dilihat dari foto-fotonya dia anak orang kaya.

“Emang kenapa kalau naik motor?” tanyanya.

“Nanti rambut kamu acak-acakan he he he.”

“Aku pakai Jilbab kok.”

Aku sempat terkejut membaca kalau dia akan memakai jilbab karena yang aku lihat foto-fotonya di media sosial kebanyakan memperlihatkan rambutnya yang lurus, lebat dan panjang itu.

Setelah dia mengirimkan lokasi, aku langsung saja meluncur sebelum zuhur nanti bisa salat di masjid dalam perjalanan, karena takut terlambat dan membuat dia menunggu lama.

Aku menunggunya di depan rumahnya, dia keluar setelah bersalaman dengan seorang perempuan, mungkin itu ibunya. Aku melihat Sasmita untuk pertama kalinya, dengan jilbab warna merah mudah dengan polesan make up tipis diwajahnya. Masya Allah indah sekali ciptaanmu ini, ujarku dalam hati.

“Hay…” Sapanya dengan senyuman indah yang melekat di bibirnya. Senyuman itu, senyuman yang membuat jantungku berdegub kencang.

Penutup

Mungkin cukup itu saja untuk kali ini. Tunggu kelanjutan dari kisah ini ya sob, hehe. Jangan lupa selalu kunjungi web kami yang akan selalu memberikan kisah-kisah unik dan menarik di, ceritaihsan.com.

Dah gtu aja..

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

Leave a Comment