Cerita Cinta : Cerbung – Andai Cinta itu Nyata Part 2

Cerita Cinta – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Cerita kali ini penulis akan membagikan cerpen sambungan dari cerbung yang berjudul “Andai Cinta itu Nyata” part 2. Di part kedua ini juga akan mengakhiri kisah cerita cinta ini.

Cerita ini juga adalah sebuah kisah cinta yang dikarang oleh tema saya. Nah.. oleh karena itu silahkan kunjungi dan follow akun instagramnya dengan mengeklik link ini, barronsy22.

Cerita Cinta

By : Didik Santoso

andai cinta itu nyata

Andai Cinta itu Nyata

Sasmita mengulurkan tanganya, dan akupun segera menyambut tangan itu, semoga tidak terasa kalau tangan ini sedang bergetar karena gerogi.

“Berangkat!”

Aku mengangguk.

Diatas motor tak banyak yang kita bahas, karena kita masih malu-malu. Aku masih tidak mempercayai kejadian ini bisa terjadi secepat dan seinstan ini. Banyak hal yang aku dan Sasmita ceritakan, kita banyak bercerita tentang sekolah dan beberapa buku karena aku dan Sasmita mempunyai hobi yang sama yaitu membaca buku. Dia juga memuji tulisanku ketika aku mengulik sebuah buku di blogku. Semoga ini kode keras dari Allah.

“Kamu udah nikah?” Tanyanya.

“Kenapa tanya gitu? Kalau aku udah nikah nggak mungkin aku ngajakin kamu makan berdua doang.”

“Takut nyaman sama suami orang.”

“He he he, belum kok, tenang aja!” ujarku. “Emang kamu nyaman sama aku?” tanyaku.

Sasmita mengangguk malu.

“Alasanya?” ku tanya lagi.

“Karena enak aja ngobrol sama kamu, mungkin karena kita punya hobi yang sama, kebisaan yang sama dan menyukai sesuatu yang sama juga, “ ujarnya. “Apa alasan itu kurang?”

Aku menggeleng.

“Aku juga merasakan hal yang sama sih,” ujarku.

Sasmita tersenyum sangat manis, dan senyuman itu tidak akan pernah lekang dari benakku.

Hening.

“Sudah Adzan, aku antar kamu pulang ya.”

“Ini masih jam dua, Za.”

Adzan subuh berkumandang begitu merdu dan keras, aku membuka mataku perlahan. Aku mencari Sasmita, tidak ada apa-apa hanya ada kegelapan ditengah kegalauan kamarku saja. Aku merasa kehilangan dan hampa ketika bangun tidur. Aku mengambil HP-ku, tidak ada pesan dari siapapun, bahkan tidak pernah ada Sasmita dalam daftar obrolanku.

Ternyata Sasmita hanya perempuan dalam mimpi, dia hanya fiktif. Dia tidak nyata. Keringat mengucur deras karena hawa dalam kamar ini yang sangat panas. Namun bukan itu yang penting, yang penting adalah siapa perempuan dalam mimpi tadi, kenapa seakan-akan nyata ada dia dalam hidupku.

Aku mulai mengatur nafas dan mengontrol emosi. Aku memutuskan untuk memenuhi panggilan Adzan, supaya hati tidak gunda seperti ini. Tentu aku juga berdoa agar Allah menghadirkan sosok Sasmita dalam kehidupan nyata.

Setalah salat subuh, aku membuka Facebook dan mencari nama Sasmita dalam pencarian teman. Ribuan nama itu berserakan di Facebook, namun tak satupun ku temui Sasmita yang ada dalam mimpiku.

Gila! Aku terlalu terobsesi denganya sehingga perempuan misterius dalam mimpi harus terbawa dikehidupan nyata, aku mengecek buku-buku yang akan aku jual, tak satupun yang berkurang hari ini.

Ketika matahari sudah menerangi Lamongan, aku mencoba mengingat alamat yang Sasmita berikan kepadaku dalam mimpi itu. Setelah itu aku berangkat menuju alamat yang masih ku ingat meski masih samar. Dia sudah membuat aku nyaman, aku tidak terima jika ini hanya mimpi, aku tak peduli jika orang mengatakan aku gila, tapi aku harus berhasil menghadirkan sasmita dalam hidupku.

Aku sudah berada didepan pintu rumah Sasmita, dan rumah ini sama persis dengan rumah yang ada dalam mimpiku. Aku mengetuk pintu itu selang beberapa saat seorang bersuara lembut menjawab salam dariku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Sasmita benar-benar ada dalam kehidupan nyata, dia bukan perempuan fiktif atau misterius, dia perempuan yang nyata.

“Kamu Sasmita kan?” ku tanya.

“Betul,” jawabnya. “Kamu siapa ya?” dia balik bertanya.

“Aku Reza Oktavian.”

“Reza Oktavian siapa?”

Sempat agak kecewa karena dia tidak mengenalku, tapi kekecewaanku menjadi sirna ketika melihat wajahnya yang menyejukan mata, sama seperti dalam mimpi.

Satu persatu aku menceritakan kisah singkatku bersamanya. Dia sempat merasa kebingungan, bagaimana mungkin mimpi bisa mengantarkan seseorang kepada orang yang sebelumnya tidak ia kenal, yang ia tahu mimpi itu hanya hayalan dan tidak ada dalam dunia nyata. Itu juga yang aku rasakan, aku merasa kebingungan dengan ini semua.

Sasmita diam tak menjawab apapun setelah aku menceritakan mimpiku.

“Semua yang kamu ceritakan tentang aku dalam mimpimu itu benar, ada satu yang salah dalam mimpimu,” ujarnya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Dikehidupan nyata aku sudah menikah, dan sekarang suamiku sedang keluar kota, hanya ada anaku di dalam, jadi maaf aku tidak bisa menyuruhmu masuk kedalam takut nanti ada fitnah.”

Mendengar bahwa dia sudah menikah rasanya hatiku tercabik-cabik, kekecewaan begitu mendalam. Sasmita dalam kehidupan nyata tidak jauh berbeda dalam mimpiku, dari fisik hingga cara dia berbicara, tapi sayang seribu sayang, dia sudah menikah. Seharusnya mimpi ini jauh sebelum Sasmita menikah.

Aku pulang dengan kekecewaan dan rasa hampa dalam hati karena kejadian ini tak sesuai dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya. Aku mengira dia hanya fiktif belaka, nyatanya dia nyata. Aku mengira dia lajang seperti dalam mimpiku nyatanya dia sudah menikah dan punya anak.

Hari-hari berikutnya sungguh Sasmita telah mengacaukan pikiranku, kadang aku ingin sekali lagi melihat wajahnya namun aku tak berani. Aku takut suaminya adalah seorang pegulat atau mantan preman yang super cemburuan. Aku berharap dia datang lagi dalam mimpi tapi tak kunjung datang meski sesaat.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu Sasmita tak kunjung menghilang dalam benaku. Aku masih bisa merasakan asiknya mengobrol denganya, aku masih bisa merasakan bau parfumnya ketika aku menemuinya di rumahnya, dan aku masih bisa melihat senyumanya yang takan pernah tergantikan oleh senyuman siapapun kecuali senyuman ibuku.

Aku merenung diteras masjid setelah sholat Ashar. Ustaz Maulana datang menghampiriku kemudian duduk di sampingku.

“Kenapa melamun, Za?”

Aku pun menceritakan masalahku kepada Ustaz Maulana, aku berharap beliau punya solusi atas apa yang sedang menimpa diriku. Satu persatu ku rangkai kata agar Ustaz maulana bisa memahami kisah pelikku ini.

“Kamu dulu pernah bilang ke saya kalau kamu mau fokus menjalankan usahamu, dan tidak mau fokus kepada jodoh dulu. Dan sekarang saya jadi tau kalau kamu sedang berbohong waktu menjawab seperti itu.”

“Maksud Ustaz?” ku tanya.

“Kata Rasul dalam riwayat Bukhari, mimpi itu ada 3 jenis, mimpi dari Allah, mimpi dari Syetan dan mimpi dari apa yang kita pikirkan,”

“Jadi menurut Ustaz mimpi saya masuk dalam kategori yang mana?”

“Saya tidak bisa memastikan, bisa jadi mimpimu itu datang dari syetan untuk menggoyahkan imanmu agar mau merusakan rumah tangga perempuan dalam mimpimu itu,” ujarnya. “Tapi kemungkinan besarnya mimpi itu ada karena apa yang kamu pikirkan, jadi sebenarnya kamu bukan hanya fokus kepada usaha kamu tapi kamu juga ingin segera menikah bukan?” tanyanya.

“Sebanarnya aku ingin menikah, tapi aku takut tak bisa mencukupi istriku karena usahaku ini masih menghasilkan uang yang tak seberapa.”

“Berarti benar, mimpi itu ada karena datang dari apa yang kamu pikirkan. Sekarang kamu tau solusinya.”

“Apa solusinya?”

“Solusinya ya dengan kamu menikah dan menghilangkan kekhawatiranmu tidak bisa mencukupi istri karena Allah akan mencukupimu.”

“Menikah dengan Sasmita?”

“Istighfar! Dia sudah punya suami, Za,” ujarnya dengan suara agak terangkat. “Sekarang kamu sholat dua rakaat, banyakin Istighfar untuk mengingat Allah jangan sampai gara-gara mimpi itu kamu akan merusak rumah tangga orang lain.”

Aku mengikuti apa yang dikatakan Ustaz maulana, aku tidak mau hadir dalam kehidupan Sasmita kemudian merusak hubunganya dengan suaminya.

-Tamat-

Penutup

Nah itulah akhir dari kisah cinta “Andai Cinta itu Nyata”. Gimana menurut kalian, apa ada yang menusuk setelah membaca cerita ini? Yahh.. mudah mudahan kisah ini cuma fiktif belaka, bukan ada di dunia nyata. Bisa sakit banget tuh pastinya kalo ini nyata.

Oke sebelum berakhir, penulisnya punya pertuah nih buat kalian..

“Jika kamu seoarang lelaki yang mampu (secara fisik, mental dan sebagainya) maka menikahlah! Tapi jika kamu seorang lelaki yang tidak mampu maka tundukanlah pandanganmu”

Okey guys, semoga cerita ini bermanfaat. Segitu ajah.. Jangan lupa sering-sering kunjungi web kami, karena aka ada selalu cerita-cerita menarik, di ceritaihsan.com.

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

Leave a Comment