Cerita Cinta : Cerbung – Cinta Dihati Zahra Part 1

Cerita Cinta – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Cerita kali ini penulis akan memberikan sebuah cerita yang bersambung. Jadi kalian harus mengikuti kelanjutannya dikemudian hari. Dijamin seru dan pantas untuk ditunggu.

Cerita ini ditulis oleh penulis muda yang baru saja menerbitkan novel yang berjudul 1/2 Hati. Coba deh kalian cari di google, ada nggk buku itu. Atau jika kalian penasaran dengan novelnya, langsung cek IG dia aja, di barronsy22.

Mengenai cerbung ini sob, ini cerita itu berkisah tentang cinta seorang pemuda yang kaya raya dan jatuh hati dengan seorang wanita cantik bernama Zahra. Ingin tau keseruannya, langsung saja deh.. Berikut kisahnya..

Cerita Cinta

By : Didik Santoso

cerita cinta

Cinta Di Hati Zahra

Cinta, Entah apa itu cinta. Apakah cinta itu ketika kita melihat perempuan cantik kemudian rasa jantung berirama tak menentu? ataukah ketika kita melihat perempuan yang melakukan kebaikan kepadamu, sehingga ada rasa ingin tahu dan memikirkanya?

Mungkin aku belum tahu sampai disana. Yang jelas, saat ini banyak perempuan menyatakan cintanya padaku. Ganteng, iya. Wangi, pasti. Selalu rapi, harus. Tebar senyuman, wajib. Itu alasan klise kenapa banyak di antara kaum hawa terpikat padaku. Karena itu semua hanya menjadi mitos tanpa kemewahan dari orang tuaku yang di amanahkan kepadaku.

Namaku Foqoha Fiqi Abadi, biasa dipanggil Fiqi. Anak seorang pengusaha kaya raya dikomplek ini. Ayahku memiliki bisnis property dimana mana, namun aku tidak akan membahas kekayaan Ayahku, Percuma, itu miliknya bukan miliku. Aku hanya tinggal menikmatinya saja.

Aku kuliah kedokteran. Sebenarnya itu bukan kehendaku, itu kehendak Ibuku, untuk tetap bisa merasakan fasilitas yang ibuku berikan, terpaksa aku mengiyakan itu. Entah jadi apa aku nantinya.

Aku juga tidak akan berbicara tentang kuliah kedokteran yang membosankan ini. Memang baru semester awal, namun rasanya ini berat. Lebih berat dari rindunya Dilan ke Milea.

Satu hal yang membuat aku betah kuliah di Universitas ini. Mahasiswi kedokteranya bikin melek. Terutama yang sudah senior. Jujur, aku lebih menyukai perempuan yang usianya di atasku, dari dulu. Dengan bermodalkan ketampanan dan kemewahan dari orang tuaku, aku bisa dengan mudah memikat hati mereka.

Hampir setiap malam minggu aku selalu jalan dengan perempuan yang berbeda, sampai pada akhirnya aku melabuhkan cintaku pada seorang perempuan bernama Disty Amelia. Sebenarnya aku masih menikmati pergantian para perempuan dikursi mobilku, namun karena Disty menembaku terlebih dahulu, ya aku terima saja. Dia cantik, punya lesung pipi dan ada tai lalat kecil di bawah matanya. Kalau dia sedang tersenyum rasanya mengangkasa seketika.

Satu hal juga yang buat aku menerimanya, yaitu dia menolak untuk ku cium. Jangankan mencium, tanganku saja ditepisnya ketika aku mau memegang pundaknya. Dan pada akhirnya setelah kita pacaran, dia pula yang menciumku dulu. Saya mengira dia perempuan yang berbeda. Tapi ternyata sama saja seperti perempuan perempuan sebelum ini.

Setelah 4 bulan hubunganku berjalan mulus dengan Disty, datanglah seorang perempuan dalam hidupku lagi. Namanya Andini Aprilia, tak kalah cantik dengan Disty, dan pada akhirnya ketampananku ini membuatnya harus menyatakan cintanya padaku. Aku tau saat ini kesetiaanku sedang diuji, semoga aku bisa membuat hati Disty menerima Andini sebagai pacar keduaku. Aamiin.

Sempat terbesit dipikiranku untuk menolak Andini, aku ingin menjadi lelaki yang setia. Karena aku berfikir bahwa di dunia ini kesetiaan hanyalah angan-angan belaka, dan aku ingin membuktikan bahwa kesetiaan bagi laki-laki adalah nyata, bukan mitos belaka.

“Maaf, Andini, aku nggak bisa terima kamu, aku sudah punya Disty,” ujarku mantap.

Saat mengatakan itu, aku merasa sebagai lelaki terbaik dimuka bumi ini, yang mampu menolak perempuan secantik Andini. Ini hebat. Aku lelaki paling setia.

Andini mendekat ke arahku, tanganya melingkari leherku, dan sekarang Andini menatapku begitu dalam dan dekat sekali. Jarak hidungku dan hidungnya hanya lima 5cm.

“Aku mau kok jadi pacar ke duamu. Aku akan jadi pacar keduamu selama sebulan, kalau kamu merasa aku perempuan yang tidak pantas selama satu bulan itu, aku akan tinggalkan kamu,” ujar Andini. “Aku jamin kamu akan merasa lebih bahagia sama aku.”

Andini adalah sosok yang sangat berbeda dengan perempuan lain, dia selalu akan melakukan apa yang dia mau tanpa menunggu aku siap atau tidak siap, dia satu-satunya perempuan yang transparan yang tidak suka dengan kode-kode misterius yang biasa digunakan perempuan pada umumnya. Andini memberikan aku kenikmatan dalam hubungan lebih dari semua perempuan yang lain, aku sangat mencintainya entah itu benar cinta atau hanya nafsu, aku sulit membedakanya.

Ku habiskan hampir setiap hariku bersamanya. Kuliahku terabaikan. Apapun yang Andini mau aku turuti, mulai dari tas-tas mahal, hingga Smartphone mahal. Tapi aku amat menikmati hubungan ini, meski aku yakin disisi lain ada yang tersakiti, yaitu Disty yang sudah aku abaikan.

Serapat apapun kau menyimpan bangkai tikus, lama kelamaan juga pasti akan tercium baunya. Sebentar saja tak bertemu dengan Andini rasanya sangat rindu. Sampai aku datangi dia di kelasnya. Aku tak menyadari kalau Disty mengekoriku dari belakang.

“Hey sayang,” ujarku menyapa Andini.

Andini memang bukan sejurusan denganku. Dan itu yang membuat aku merasa kalau Disty tak akan tahu kalau aku ada hubungan dengan Andini, dan sekali saja aku mendatangi Andini di kelasnya tentu tidak masalah.

“Tumben kamu berani kesini,” ujar Andini. “Entar ketahuan loh sama si ,Disty,” tambahnya.

Aku tak peduli hal itu. Tidak mungkin juga Disty sampai tahu, ternyata aku salah besar. Hidung perempuan memang lebih besar dari pada lelaki, dia dengan tajam mampu mencium aroma kebusukan.

“Oh jadi ini yang membuat kamu selama beberapa minggu ini ngilang gitu aja,” ujar Disty mengagetkanku.

Aku bangkit dari duduku, begitu juga dengan Andini. Jantungku berdegub sangat cepat saat itu, dan yang membuat aku lebih kaget yaitu apa yang dilakukan Andini. Dia tidak ketakutan sama sekali, dia justru melingkarkan tangan kananya di pinggangku. Seakan memberi penghinaan kepada Disty.

Dan terjadilah lomba tarik rambut antar mereka. Aku mencoba melerai mereka, namun susah sekali, dan akhirnya memicu para mahasiswa untuk menyaksikan perkelahian ini. Karena aku sudah putus asa melerai Andini dan Disty, kutinggalkan saja mereka berdua. Sebelum nanti ada dosen yang melihat.

 Aku berlari meninggalkan tempat itu, sampai aku duduk di bangku taman kampus, aku belum menyadari ternyata ada gadis manis di sampingku, dekat sekali. Wajahnya memang tak secantik Disty dan Andini yang setiap minggunya perawatan ke salon. Gadis manis yang sedang aku lihat ini wajahnya cantik natural. Hijabnya panjang menjulur ke bawah, melihat pakaianya yang sopan aku jadi terkesima.

Ketika ia tahu aku duduk disampingnya, lantas ia langsung pergi meninggalkan aku tanpa menoleh sedikitpun. Awalnya ingin ku kejar dia, gengsilah!. Biasanya aku yang dikejar perempuan. Setelah ini aku yakin dia akan balik arah dan ingin berkenalan denganku.

“1..2..3.”

Benar dugaanku, dia berbalik arah, menuju ke arahku tapi tidak melihat keberadaanku. Kemudian aku melihat tatapanya dan aku tahu dia berbalik arah karena bukunya ketinggalan di atas tempat duduknya tadi. Aku melihat buku itu dan aku membaca namanya, Zahra El-Rahmah. Itu namanya, begitu mudah melekat dipikiranku.

Sebelum dia sampai mengambil buku itu, aku mendahuluinya. Ku pegang buku itu, barulah ia melihat keberadaanku.

Ia menjulurkan tanganya, ku kira dia mengajak berkenalan. Ku sambut tanganya, belum sampai bersentuhan, dia menghindari tanganku.

“Bukunya,” katanya dengan nada ketus.

Aku menjulurkan bukunya dengan tangan kiriku, begitu dia hendak menyambut buku itu, ku tarik buku itu dari tangan kiriku dan ku sambut tanganya dengan tangan kananku. Behasil aku bersalaman denganya.

Setelah aku tersenyum genit padanya, tangan kirinya terayun begitu cepat dan mendarat di hidungku. Membuat aku terjungkal kebelakang, buku yang ku pegang terlepas dari tanganku. Dan dia mengambil itu kemudian setengah berlari meningglkanku. Hidungku berdarah, rasanya tulang hidungku patah. Membuat mataku berarair. Sumpah sakit sekali.

Bersambung. . .

Penutup

Mungkin bergitu saja kisah kali ini, jangan lupa nantikan kelanjutannya dan baca-baca lagi kisah dan cerpen lainnya di ceritaihsan.com.

Dah gitu aja,

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

 

2 thoughts on “Cerita Cinta : Cerbung – Cinta Dihati Zahra Part 1

Leave a Comment