Cerita Cinta : Cerbung – Cinta Dihati Zahra Part 2

Cerita Cinta – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Apa kabar wahai pembaca setiaku? Kali ini, penulis akan melanjutkan kisah dari cerbung cinta dihati zahra bagian ke dua. Sudah nggk sabar bagaimana kelanjutan ceritanya yaa? haha.. Oke langsung cek sendiri aja, bagaimana keseruannya..

Sebelum itu, jangan lupa kunjungi dan follow IG penulis cerpen ini loh ya!.

Kenapa harus di follow guys?

Yaa.. Kasihan lah sob, udah capek-capek buat cerpen cobak, terus gak ada yang apresiasi dari karyanya, gak ada yang tau siapa penulisnya.., nah kalo kamu digituin sakit nggk sih? sakit kan pastinyaa. Nyesek gituh rasanya. Makanya follow yah,.. langsung klik link ini ajah, di barronsy22.

Mari kita lanjutkan ceritanya..

Cerita Cinta

By : Didik Santoso

cerita cinta

Cinta Dihati Zahra

Setelah beberapa saat aku menyeringai kesakitan, dia datang lagi. Membawa kain basah, obat merah dan tisu. Kemudian menyerahkan itu padaku. Aku memandang sinis kearahnya, meskipun ku terima juga barang-barang itu darinya.

Gadis itu duduk disampingku, sambil tersenyum melihat aku yang menyeringai kesakitan. Bahkan ia tak mau mengobatiku, aku sendiri yang melakukan hal itu.

“Tidak semua perempuan bisa kamu godain seenaknya,” ujarnya.

Tak ku hiraukan kata-katanya, aku masih sibuk mengurusi hidung mancungku yang patah gara gara pukulanya. Setelah itu dia menghilang dari pandanganku.

Sejak kejadian itu aku jadi tambah penasaran dengan gadis manis yang bernama Zahra itu. Ku datangi dia di tempat kejadian dimana hidungku patah, ternyata sering juga dia duduk sendiri ditempat itu. Aku duduk disampingnya, dengan plaster putih masih menempel di hidungku.

“Belum kapok?” ujarnya. “Mau lagi?”

“Enggak terimakasih,” jawabku.

“Kamu nggak pengen tahu siapa namaku?”

“Nggak penting” ujarnya ketus.

Pertama kalinya aku dianggap tidak penting, siapa sih gadis ini, sombong sekali. Tapi entah kenapa justru karena itu aku makin terpacu untuk berusaha mendekatinya. Jarang sekali ada gadis natural dan galak seperti Zahra ini. Saya kira dia perempuan Limitid edition yang diciptakan Tuhan.

“Kamu belum minta maaf sama aku loh,” ujarku.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Ini,” ujarku menunjuk hidung.

“Sudah sepantasnya lelaki kurang ajar seperti kamu mendapatkan itu,” ujarnya ketus. Aku tak berkutik dengan jawabanya.

Satu pesan whatsapp masuk ke smartphonku, dari Rendi, temanku.

“Lihat trending Youtube”

 

Aku langsung melihat trending Youtube, dan itu adalah perkelahian Disty dan Andini. Aku kaget melihat itu karena perkelahian mereka sampai hampir telanjang. Ku balas pesan dari Rendi.

“Sudah”

 

“Mereka dikeluarkan dari kampus” balas Rendi.

 

Aku seakan tak peduli, yang penting saat itu aku sudah berusaha melerai mereka. Tapi mereka tak mau, berarti dikeluarkanya mereka dari kampus karena kesalahan mereka sendiri. Bukan urusanku lagi.

Aku mulai fokus mendekati Zahra saja, namun itu tidak semudah aku mendekati perempuan lain. Sampai akhirnya aku berhasil mendapatkan nomer hpnya. Tapi rasanya sia sia, banyak aturan. Dia tidak menerima telpon dari laki laki, dia mau di ajak berbalas chat dari setelah isya’ sampai pukul 9, setelah itu dan sebelum itu chat tidak direspon. Menyebalkan.

Cinta dihatiku mulai mekar, hingga aku memutuskan untuk mengungkapkan itu pada Zahra. Ini adalah pertama kalinya aku mengungkapkan cinta pada perempuan. Biasanya kaum mereka yang bertekuk lutut jika melihat pesonaku.

“Zahra, makin kesini rasanya aku suka sama kamu,” ujarku pelan. “Kamu mau jadi pacarku?”

“Mau ku patahkan lagi hidungmu?” ujarnya. “Aku tidak pacaran.”

“Tapi aku cinta sama kamu Zahra.”

Ini adalah pertama kalinya aku nembak perempuan dan pertama kali juga aku seperti seorang babu yang memohon kepada majikan.

“Buang jauh jauh rasa itu, perengkap setan,” ujarnya. “Tidak ada kata pacaran dalam Islam.”

“Lalu bagaiman kamu mengenali pasangan hidupmu nanti kalau tidak dengan pacaran?” ujarku agak ngotot.

“Ta’aruf,” jawabnya singkat.

“Ta’aruf? Apa itu?”

Zahra mengela nafas panjang, dengan lirih mengatakan “Payah”, aku bisa mendengar itu meskipun pelan.

“Begini aja, aku mau pacaran sama kamu tapi ada 2 syarat,” ujar Zahra. “Dan kamu harus berhasil melakukanya.” tambahnya lagi.

“Apa syaratnya?” tanyaku. Rasanya syarat apapun itu akan aku terjang, yang penting aku bisa mendapatkan cintanya Zahra.

“Kamu masih sholat 5 waktu?” tanya Zahra.

“Kadang-kadang.”

Padahal sebenarnya sudah lama aku meninggalkan sholat wajib. Karena malu dengan Zahra ku jawab saja begitu.

“Mulai besok dan 40 hari kedepan, sholat kamu tidak boleh bolong”

“40 hari?” tanyaku kaget.

“Iya, 40 hari.”

Sebelum mengenal Zahra, dalam waktu 40 hari aku bisa mengencani 14 perempuan yang berbeda. Tapi demi Zahra akan aku lakukan permintaanya.

“Jangan bohong! Allah maha melihat.” nadanya seperti sedang mengancam penjahat.

Disaata aku sedang fokus dengan sholatku, aku juga secara otomatis fokus dengan sekolahku, ibarat kata sekali mendayung dua pulau terlewati.

Pagi itu Andini dan Disty datang ke rumah, mengetuk pintu rumahku seperti seorang rentenir. Aku harus menemui mereka segera, karena menghindar dari mereka justru akan memperpanjang urusanku.

Mereka memintaku untuk memilih salah satu dari mereka namun aku tidak mau memilih, aku menjelaskan kepada mereka agar kita harus menjalani hidup kita masing masing, aku melihat mereka kecewa denganku pada akhirnya mereka mau memahamiku.

Waktu terus merambat. Menurutku, yang paling berat adalah sholat subuh, aku sering sholat pukul tujuh gara-gara kesiangan bangun, tapi meskipun demikian aku terus saja sholat sampai 40 hari. Dan aku hampir tak percaya dengan ini semua, aku melakukan sholat 5 waktu selama 40 hari. Ku datangi Zahra untuk segera menerima syarat selanjutnya.

“Aku sudah melakukan apa yang kamu mau, sekarang apa syarat yang kedua?” tanyaku.

Zahra memberikanku sebuah buku berjudul “22 Amalan Sunnah pengetuk pintu syurga”

“Baca buku itu sampai selesai!” ujarnya. “Lalu amalkan setiap poin yang ada di dalam buku itu selama 40 hari kedepan.”

“40 hari lagi?”

“Mau jadi pacarku nggak?”

Aku mengangguk.

Mungkin syarat ke dua ini adalah yang terberat. Bagaimana tidak, aku yang pemalas ini disuruh bangun sepertiga malam yang terakhir dan sholat 12 rakaat. Itu membuatku menderita, kuliahku jadi terbengkalai karena rasa kantuk ketika siangnya.

Namun aku lalui dengan begitu sabar amalan-amalan berat ini. Disisi lain aku merasa diriku ini berubah, aku sampai tak mengenali siapa aku sebenarnya. Sejak dekat dengan Zahra aku merasa hidupku tak seperti dulu, aku tak punya waktu untuk bermain perempuan seperti dulu.

Ayah dan Ibuku heran melihatku yang sekarang rajin sholat dan melakukan amalan-amalan sunnah lainya, tapi aku tak peduli, tujuan awalku tetap kokoh. Yaitu bisa pacaran dengan Zahra.

Hingga aku berhasil melakukan amalan amalan sunnah yang ada di dalam buku itu selama 40 hari. Tak menunggu lama, kudatangi lagi Zahra untuk menagih janjinya.

“Gimana sekarang, kita sudah jadi pacar kan?” ujarku. “Aku sudah melakukan apa yang kamu minta selama total 80 hari”

Zahra menutup buku yang sedang ia baca.

“Kamu gagal.”

Bersambung . . . . .

Penutup

Keren gak sob? Penasaran lanjutan ceritanya? haha,.. Maka dari itu selalu kunjungi web kami, karena akan selalu ada info dan cerita-cerita menarik yang sebisa mungkin akan kami update, di ceritaihsan.com. Sabar yaa nunggu kelanjutan ceritanyaa..

Gtu aja sih..

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

Leave a Comment