Cerita Cinta : Cerbung – Cinta Dihati Zahra Part 3

Cerita Cinta – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Cerita kali ini penulis akan membagikan cerpen dari cerbung cinta dihati zahra ke 3. Yang mana pada bagian ini pula cerita ini akan berahir. Mau tau ending cerita dari cerpen cinta dihati zahra? Langsung saja kalian simak berikut ini.

Namun sebelum itu, jangan lupa untuk follow ig teman saya yang sudah membuat cerpen ini hingga jadi dan selesai, di barronsy22.

Oke kita lanjutkan..

Cerita Cinta

By : Didik Santoso

Ilustrasi saja.. sumber:humairoh.com

Cinta Dihati Zahra

“Gagal?” suaraku agak terangkat.

80 hari susah payah aku lakukan apa yang dia mau, sekarang dengan tanpa beban dia bilang aku gagal. Rasanya ingin marah, namun ku tahan amarahku.

“Iya kamu gagal.”

“Maksut kamu aku bohong selama 80 hari itu?”

“Bukan.”

“Lalu?” tanyaku.

“Fiq, sholat itu mencegah dari perbuatan mungkar,” ujar Zahra menatapku. “Jadi selama 80 hari kamu sholat itu masih gagal karena kamu masih akan mengajaku melakukan kemungkaran, yaitu pacaran.”

“Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“Fiq, jika sholat kamu sudah sampai menyentuh hatimu. Maka kamu tidak akan mengajaku pacaran karena itu dibenci sama Allah. Niatkan ibadahmu ikhlas karena Allah semata, dengan begitu kamu bisa merasakan manisnya ibadahmu, dan dari sholat itu kamu akan Allah jaga dari perbuatan mungkar.”

Aku mendengarkan itu, tak berkata apa apa. Karena aku sendiri tak sanggup mengeluarkan kata-kata.

“Aku seorang perempuan yang amat merindukan syurga, tapi aku masih jauh untuk layak berada di syurga. Aku ingin memiliki pasangan hidup yang mampu mempermudah aku untuk mendekat ke syurganya Allah, bukan pasangan yang makin menjerumuskan aku ke neraka,” ujarnya. “Mulai sekarang perbaiki dirimu, tingkatkan kualitas ibadahmu, begitu juga denganku. Jika kita berjodoh pasti Allah akan pertemukan kita dengan cara yang indah. satu hal lagi, kita harus percaya dan yakin bahwa Allah tidak akan pernah mendholimi kita dalam setiap ketentua-Nya”

Hari itu seharusnya adalah hari paling mengecewakan bagiku karena aku tak berhasil memacari Zahra. Tapi aku merasakan hal yang sebaliknya, hari itu aku merasa hari paling beruntung dalam hidupku karena aku bisa mengenal Zahra. Darinya, aku mengenal Allah-ku. Aku mengenal Muhammad-ku dan ajaran ajaranya.

Ku tingkatkan kualitas ibadahku dari hari ke hari. Aku juga menghafal ayat ayat Allah. Rasanya damai sekali hidup ini jika kita dekat dengan sang khaliq. Hidup ini menjadi lebih mudah, meski kadang Allah memberi cobaan namun aku selalu ingat perkataan Zahra, bahwa Allah tidak akan mendholimi kita dalam setiap ketentuan-Nya.

Meski banyak perempuan datang seperti dulu, aku tak memberi sedikitpun akses untuk mereka berkomunikasi denganku. Aku ingin fokus dan mencapai apa yang pernah Zahra bilang yaitu bisa merasakan manisnya beribadah kepada Allah.

Tak lupa untuk manambah ilmu agamaku, ku datangi majlis ilmu terdekat. Hingga aku kehilangan diriku yang jahiliyah dulu. Fiqi yang sekarang berbeda dengan Fiqi yang dulu.

Kini aku sudah menjadi seorang dokter, meski awalnya kuliah ini tak ku inginkan. Namun pada akhirnya aku bisa sampai menyelesaikanya. Ibu dan Ayahku sangat bangga sekali.

Ketika aku merasa bisa hidup mandiri dengan penghasilanku sebagai seorang dokter, dan tidak meminta lagi kepada orang tua, maka itu adalah saat yang paling aku tunggu.

Ku datangi orang tua Zahrah. Ku bawa orang tuaku untuk melamarnya. Di menepati janjinya, meski usianya di atasku, dia menungguku. Dan langsung saja dia menerima lamaranku.

“Kamu benar Allah tidak akan mendholimi kita,” ujarku.

Zahra tersenyum, bertambah manis dia kalau sedang tersenyum.

“Terimakasih ya.”

“Untuk apa?” tanya Zahra.

“Karena kamu menyuruhku meningkatkan kualitas ibadahku, akhirnya Allah membuat hidupku berkualitas.”

Zahra tersenyum tak berkata apa-apa. Aku juga ikut tersenyum.

“Terimakasih juga sudah mau menungguku.”

Tidak lama setelah lamaran itu, aku menikah dengan Zahra. Dan pada malam pertamaku, Zahra bilang kepadaku.

“Sekarang kamu sudah jadi pacarku, Pacaran itu setelah menikah.”

Begitulah keistimewaan Zahra. Aku beruntung bisa mendapatkan tempat di hatinya. Jika dulu aku tak bisa memaknai apa itu cinta. Maka setelah menikah aku bisa memaknainya,

“Cinta itu ketika kita dekat dengan seseorang, kita merasa dekat pula dengan Tuhan.”

Penutup

Yupss… Begitulah akhir kisah cinta dari cerpen ini. Semoga bisa mengobati rasa penasaran anda yang beberapa hari memang tidak saya update. Dan semoga kalian mendapatkan hikmah dan manfaat dari membaca tulisan ini.

Gitu saja, Jangan lupa terus kunjungi web kami, karena akan ada cerpen-cerpen yang menarik yang sebisa mungkin kita update, di ceritaihsan.com.

Semoga bermanfaat,

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

Leave a Comment