[Kisah Nyata] Cerita Sedih : Cinta, Romantis, Keluarga

Cerita Sedih – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Kali ini penulis akan memberikan kisah yang tak akan pernah terlupakan. Diambil dari cerita para orang tangguh yang jarang sekali ditemui di dunia ini. Dibalik kehidupan mereka terdapat cerita sedih yang mengharukan ..

Namun sebelum itu, dalam sebuah cerita pastilah membutuhkan beberapa unsur agar bisa menjadi sebuah cerita yang baik dan lengkap. Bila kalian ingin mengetahuinya bagaimana, kalian bisa baca mengenai unsur intrinsik.

Cerita Sedih Keluarga

cerita sedih
pexels.com

Ayah Penggemar Barang Rongsok

Pria itu selalu saja begitu, kerjaannya begadang sampai larut dan cuma memperbaiki barang rongsok yang bukan miliknya. Mendengar suaranya saja sudah bikin tidak tenang banyak orang, entah bagaimana, yang jelas suaranya cukup nyaring di dengar dari dalam rumah.

“pak sudah malam ini, cepatan masuk rumah, gak enak sama tetangga.” kata ibuku.

Rumahku berada di pinggir jalan gang tidak terlalu lebar. Dalam rumah kami, tidak ada tempat buat menyimpan semua barang milik ayahku, tepatnya barang milik temannya.

Ibuku sering marah kepada ayah karena perbuatannya yang sering sekali tidak tidur. Tak jarang juga pada pagi hari terdengar celoteh yang kurang enak untuk didengar anak-anaknya sepertiku.

Tapi apa boleh buat, begitulah kebiasaan ayahku.

Dia memperbaiki becak motor milik teman-temannya. Bukan hanya satu-dua, melainkan ada 3 sampai lima becak yang berserakan di depan rumah kami.

Dan kenapa aku bilang itu adalah barang rongsokan, karena beberapa hari lagi pasti becak itu akan datang kerumah kami memohon untuk diperbaiki. Aku tidak begitu mengerti dan memperhatikannya, cuman setiap hari aku lihat becak-becak itu, setidaknya aku tau mana yang sudah pernah datang dan mana yang belum.

Sering dari becak yang diperbaiki ayahku adalah becak yang sama, dan itu-itu saja. Aku pun hafal, bahkan siapa yang datang juga aku tau dia pemilik becak rongsok yang mana.

Kebiasaannya buruk yang sering dilakukan itu membuat tubuhnya lemah. Dia sering sekali sakit-sakitan. Batuknya yang tak henti dalam satu dua minggu, nafas yang sedikit ngos-ngosan, asma sih enggak, mungkin saking kecapeannya.

Untuk menghidupi anaknya, ibuku membantu perekonomian keluarga dengan jualan gorenang setiap harinya. Ayahku sendiri hanya tukang becak motor dan petani kecil. Jadi setelah dia begadang atau hanya tidur dalam waktu 1-2 jam, lalu dia pergi ke sawah dan mengurus ladangnya.Tapi bila tidak musim tanam atau panen, maka ayahku pergi ke pankalan becak untuk mencari pelanggan.

Sayangnya tak ada pelanggan yang mau menaiki becak motor milik ayahku. Memang aku akui dan juga ibu pun begitu, bahwa becak motor milik ayahku tak layak ditumpangi oleh orang. Mungkin jelek dan rusaknya karena dibuat untuk membawa kelapa kering milik bosnya untuk diantarkan ke para pelanggan pemilik kelapa tersebut.

Iya, ayahku pengantar kelapa tua. Itu pun cuma jika setiap ada kelapa yang datang, biasa 3 hari sekali. Dari situlah ayahku benar-benar mendapat upah untuk menghidupi keluarga.

Lantas bagaimana dengan barang rongsok yang selalu dikerjakannya setiap malam, yang susah payah dia bela-bela tidak tidur hanya untuk memperbaiki barang-barang tersebut?

Kalau kalian tau, semua yang dia kerjakan untuk becak motor rongsok itu “TIDAK di BAYAR“.

Ketika aku mendengar kabar tersebut dari ibuku, aku juga ikut jengkel, marah, kesal apa sajalah. Kenapa coba dia rela bela-belain memperbaiki becak rongsok milik temannya yang pada ujung-ujungnya tidak mendapat apa-apa?

Kenapa juga sih dia merelakan kesehatanya hanya untuk orang yang tidak memikirkannya. Pernah aku menjumpai dia benar-benar sakit. Tubuhnya sangat lemas, batuknya sudah gak karuan nada dan iramanya, menyakitkan dada orang tersebut. Dia hanya bisa berbaring lemas untuk jangka waktu beberapa hari.

Sejenak aku berfikir, mungki dia lebih baik diberi sakit dari Sang Kuasa, dengan begitu dia bisa istirahat. Mungkin juga dari sakit itu dia sadar, kalau yang dia lakukan itu tidak baik untuk kesehatannya. Toh juga apa yang ia lakukan tidak mendapat apa-apa.

Tapi pikiranku salah besar, apa yang telah terjadi kepadanya tidak membuatnya berubah sama sekali. Saat dia sudah sedikit bugar, cuma sedikit saja, dia melakukan aktifitas itu lagi dan lagi.

Sampai kapan dia akan melakukan hal itu? Aku kesal dengan berbuatanya, aku bukan benci, cuma kalau melihat salah seorang yang kusayang seperti itu, lantas aku harus bagaimana? aku juga bingung, ibu saja tidak bisa menasehatinya, apa lagi aku?

Di suatu pagi yang seisi rumah ribut oleh ocehan ayah-ibuku, aku mendengar ucapan mereka yang lantang dengan suara saling meninggi,

“pak bagaimana nasib anak kita, kalau bapak begini terus, penghasilan pas-pasan dan tidak cari kerja lain. Masih saja mengurus becak orang yang tidak mendapakan upah. Sedangkan anak kita sudah masuk kelas 3 SMA, habis ini butuh dana banyak untuk ujianya” kata ibuku berusa halus.

“Ya udah lah, kalau sudah tidak bisa membiayai sekolah, ya gak usah sekolah” katanya keras.

Raut muka ibuku menjadi mengkerut.

“Jangan begitulah pak, bapak yang harus bisa cari kerja lain. Tinggalin itu becak-becak gak berguna. Paling juga di kasih 10 ribu, itu aja kalau ada yang ngasih.” kata ibuku sedikit meninggi.

“Lah mau kerja apa, reski sudah ada yang ngatur, iya itu dapatnya.”

“Tapi tidak begitu juga pak, bapak menyiksa diri kalau setiapa malam begitu.”

“Udah lah udah, kalau mau sekolah suruh anakmu cari uang sendiri”

Mendengar kata-kata itu hatiku langsung sakit, sungguh sangat menusuk, apa jadinya kalau aku tidak sekolah? Kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Jujur, aku memang tidak akrab dengan ayahku. Ngobrol? itu tidak ada dalam kamus keluargaku, lebih tepatnya aku sama ayahku.

Ketemu di jalan saja kita tidak pernah saling sapa, perhatiannya kepadaku hampir tidak pernah ada. Sekali doang ketika ibu pergi kepasar dan saat aku sakit gigi, dia pernah berkata :

“Sakit gigi ta, di kasih pil sana beli di toko sebelah”

Itu kata-kata yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. Perhatiannya mungkin terlalu mahal untuk anak-anaknya. Aku tidak tau kenapa. Mungkin sepele, tapi buat aku itu berharga sekali.

Sampai suatu hari, dia pergi ke ladang, dan aku sekolah.

Sore hari dia baru pulang, begitu juga denganku. Tapi aku lebih dulu satu jam dari pada dia. Ayah-ibu datang jam lima sore. Memang jika ibuku usai menjual gorengan, jika badannya masih bisa bergerak, dia akan ikut ayahku ke ladang dan membantunya.

Sore itu tidak ada berita buruk sedikitpun. Ayahku juga sehat pada hari itu, begitu pula ibuku.

Pada malam harinya, aku yang pulang dari rumah temanku yang agak larut, tepatnya jam 11 malam, aku mendapati ayahku sudah tidur. Tumben banget kataku.

Ayahku belum sholat isa’. Lalu dari luar kamar aku dengar ibuku yang baru selesai dari pekerjaannya, membangunkan ayah agar dia laksanakan kewajibannya.

Aku juga saat itu masih bangun dan menonton tv, mencari-cari kantuk dengan  tiduran di kasur depan ruang keluarga.

Usai sholat, ayahku makan. Entah kenapa dia malah makan, buka langsung beranjak tidur untuk meneruskan istirahatnya. Setelah itu aku tidak tau kabarnya, aku sudah terlelap.

Sekitar jam satu malam, aku merasa tidak enak dengan tidurku. Aku setengah terbangun. Lalu aku mendengar ibuku memanggil-manggil ayahku dalam kamarnya.

Cukup lama aku mendengarnya, mungkin sekitar 15 menitan. Dan saat itu juga ibuku menghampiriku lalu membangunkanku dan bilang :

san.. Bapakmu gak ono ..” (ayahmu gak ada)

Aku yang sudah sadar sejak tadi langsung bangun. Melihat raut muka ibuku yang kebingungan dan berusaha mencerna.

Aku langsung mendatangi ayahku yang terbaring di kamar.

Sekilas, aku juga tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak pernah melihat kematian, aku takut. Melihat wajah ayahku dengan mata terbuka dan mulut menganga. Aku peganng kakinya, dingin, dingin sekali. Aku taruh tanganku di dadanya, mencoba merasakan denyutan jantungnya. Tapi tak ada detakan sedikitpun, ayahku telah meninggal.

Dalam benakku, aku kebingungan, apa yang harus aku lakukan, dia sudah tidak ada. Apa aku harus senang? mungkin dengan begitu sudah tidak ada omelan lagi di pagi hari jika dia tidak ada. Aku harus bangga, dengan begitu tidak ada lagi tetangga yang akan terganngu di setiap malam. Toh juga ada tidak adanya dia, aku tak pernah bicara.

Tapi dia ayahku, ayahku satu-satunya.

Saat itu juga aku meneteskan air mata. Ibuku juga mulai menggeru-geru, kakak ipar perempuanku juga terbangun dan menangis dengan sangatnya, saat mengetahui ayah tidak ada.

Aku tidak punya hp, aku tidak bisa menghubungi keluarga yang lain untuk memberitahukan kejadian ini. Ada kakakku yang tinggal beda rumah di tengah desa, butuh waktu untuk pergi kesana.

Aku pun pergi ke rumah kakak perempuanku, dan mengabarkan kematian ayahku. Lalu kakakku juga mengabarkan ke seluruh sodara yang ada di luar kota.

Beginikah rasanya kehilangan seorang ayah?

Sakit, tapi dalam hidupnya juga tidak membuatku senang sama sekali. Rasa ini bercampur aduk.

Ibuku yang paling terpukul dengan kejadian ini. Sesosok ibu yang sangat tangguh dan penyabar pun tak kuasa bila dihadapkan dengan kematian.

3 hari 3 malam ibuku terus saja menangis. Dia masih tidak terima, tidak ada sakit apa-apa yang menjangkitnya. Pagi juga masih bekerja di kebun, malam juga masih makan. Secepat itukah kematian menghampiri?

Hari demi hari berlalu. Kami mengenang semua jasa yang pernah dilakukan oleh ayakku dulu ketika masih hidup. Semua keluarga juga berkumpul di rumah ibu, dari kakak yang pergi merantau ke Malaisya dan Surabaya.

Ibuku mencertikan semua dibalik apa yang ayahku lakukan, dia berkata :

“Ayahmu sungguh mulia, dia rela membenahi becak-becak yang rusak miliki temannya itu bukan suatu hal yang percuma. Dia punya prinsip yang baik. Pernah bilang sebelum kematiannya, ibu tanya kenapa terus-terusan melakukan pekerjaan yang tidak di bayar itu. Dia berkata : ‘kalau becak-becak itu tidak segera diperbaiki, maka mereka tidak bisa mencari uang. Sedangkan mereka butuh uang untuk makan. Dan mereka hanya bekerja sebagai tukang becak'”

Dari situ aku baru mengerti, sungguh tulus perbuatan yang dia lakukan, Dia tau keluarga kami dari kolongan yang tidak punya, tapi dia melihat temannya lebih membutuhkan sehingga rela mengorbakan dirinya sendiri untuk orang lain.

Dia juga tau kalau pemilik becak-becak itu tidak akan sanggup membayar uang sehingga tidak diperbaiki di bengkel, dari sana juga ayahku tak pernah memberikan tarif bagi mereka.

Pernah sekali,-mungkin saking gak enaknya mereka yang terus-terusan datang dan tak pernah memberi upah, salah satu dari mereka memberikan upah kepada ayahku sebesar 10 ribu perak.

Bayangin, sebandingkah 10 ribu dengan kerja lembur begadang?

Aku kaget bercampur kagum, semua yang diceritakan ibuku itu nyata. Dibalik sosok diamnya, ternyata dia sebetulnya begitu baik. Kematiannya juga tidak dipersulit, dalam jasatnya juga terahir aku melihat ada keringat dingin yang membasahi wajahnya.

Aku dengar-dengar dari pengajian bahwa salah satu tanda-tanda kematian husnul khotimah adalah kematian yang tiba-tiba, keringat keluar dari tubuhnya, dan lain sebainya. Kuharap ayahku dapat dari salah satunya.

Dari peziarah juga cukup banyak, sampai-sampai temanku bertanya “apakah ayahmu seorang tokoh dia desa?” Tentu aku jawab tidak. Ayahku orang yang biasa saja. Tidak terkenal dan jarang dikenal oleh orang banyak.

Satu yang dibisikan ibu ketelingaku, sebuah keikhlasan menghasilkan buah yang tak pernah bisa dirasakan oleh orang lain. Itulah ayahku.

ohh ayah, andaikan sedikit saja kita bisa bicara, aku ingin sekali menanyakan bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau sehat-sehat saja? sudahkah kau makan pagi ini? Tapi waktu kini sudah memisahkan kita.

ohh ayah, mungkin jasamu tak akan bisa aku lupakan, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih sudah membesarkanku sampai seperti ini, aku hanya bisa berterimakasih. Sampai jumpa ayah. Doaku selalu menyertaimu. Aku akan berusaha menjadi anak yang sholeh, aku akan jaga ibu selalu..

∼ Cerita Sedih Keluarga ∼

-Tamat-

Note :

Cerita sedih ini berasal dari penulis sendiri. Sebuah insiden nyata yang terjadi pada salah satu keluarga, yaitu ayah sendiri.

Maka dari itu teman-teman jangan sia-siakan orang tua yang telah membesarkan kita.

Dari cerita sedih di atas, menurut kalian apa yang bisa diambil pelajaran ?

Cerita Sedih Cinta

cerita sedih
pexels.com

Dilihat dari Mana Saja, Cinta itu Menyedihkan

Semua yang telah aku nantikan itu berahir tragis, menyisihkan luka yang teramat dalam. Dalam sekali sehingga aku pun tak tau, apakah bisa sembuh ataupun selamanya akan menjadi seperti ini.

Dia wanita tercantik yang pernah ku jumpai. Cukup cantik yang banyak lelaki idamkan. Paras putih bersih dengan wajah kekuningan walau tanpa make up sama sekali. Mata yang teduh, bibir merah semerah jampu biji. Semua yang dia punya adalah pemberian, sangat natural.

Sifatnya yang baik, pakaiannya juga yang selalu memakai jubah besar dan kerudung dengan ukuran panjang sampai punggung. Laki-laki mana yang tidak menyukainya.

Dia adalah wanitaku, dulu.

Kami menjalani hubungan yang semestinya tidak saling kita lakukan, terutama untuk diriku sendiri. Aku adalah guru agama di salah satu SMP Islam yang ada di desa. Kami berpacaran sudah satu tahun yang lalu.

Menurutku, pacaran itu tidak boleh. Apapun alasannya, pacaran tetap saja suatu hal yang tidak dibenarkan. Walau aku tetap menjaga kehormatannya, begitu pula kehormatanku, kami hanya behubungan lewat SMS.

Aku sayang sekali padanya, begitu pula dia kepadaku, kecuali dia bohong, entahlah. Tapi bukti dari hubungan kita adalah kita tidak pernah punya masalah sedikitpun. Disetiap malam kita SMS yang biasa dilakukan anak yang saling suka. Dia nyaman-nyaman saja denganku.

Aku tau bahwa ini salah, maka dari itu aku ingin sekali melamarnya segera. Bukanya aku tidak berani, tapi ada sedikit masalah yang dia masih belum siap. Dia baru lulus SMA tahun lalu, tapi dia juga punya alasan lain.

“aku tidak ingin hubungan kita ini berlarut-larut, aku ingin kita jadi pasangan yang halal. Tidak seperti ini” kataku dalam SMS.

“ya sudah selesaikan dulu kuliahmu.” balasnya

Selain mengajar di SMP Islam di desa, aku juga kuliah.

Sejak saat itu, aku pegang janji yang diberikannya itu.

Kehidupan sehari-hari kami jalani biasa saja. Dia bekerja di toko sepatu sebagai kasir, aku mengajar dan siangnya kuliah. Kita hanya bertemu lewat SMS pada malam hari, terkadang juga melalui terlfon.

Semua baik-baik saja. Tidak ada sedikitpun dari hubungan kita retak atau datang masalah. Semua baik-baik saja.

Pernah dia mengeluh saat aku antar pulang dari tempat kerjanya,-karena kakaknya tidak bisa menjemputnya, bahwa dia capek kerja di tempat tersebut. Dia tidak betah karena terlalu berat bagi dirinya.

Aku pun berusaha mencarikan kerjaan yang lebih ringan dan bisa dia masuki. Lalu aku memohon kepada kepala sekolah agar menjadikannya TU sekolahan.

Akhirnya diperbolehkan.

Dalam benakku, setiap hari aku bertemu dengan wanita yang ku sayang, di tempat kerja, di tempat di mana aku mengajar. Rasanya, setiap hari aku akan bahagia.

Itu harapanku, tapi saat waktunya tiba,

“aku sudah wisuda, bagaimana dengan janji dua tahun yang lalu. Aku ingin hubungan kita jelas, tidak seperti ini, berada dalam ke-haraman yang berkelanjutan. Aku ingin datang kerumahmu, melamarmu”

Terntunya aku juga bilang memalui SMS. Bukannya aku tidak berani, dalam adab aku hanya meminta izin untuk datang kerumahnya.

“Maaf mas, aku belum siap” jawabnya.

Begitu singkat dan mudahnya dia bilang seperti itu. Aku tidak ingin hubungan yang terlarang ini berlanjut. Aku pun memutuskan untuk pisah darinya, sementara waktu, cuma sementara waktu yang aku harapkan, tidak selamanya.

“ohh ya sudah, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Setidaknya jika kau sudah siap, tolong kabari aku, aku akan datang langsung ke rumahmu. Tapi jika karna kau sudah tidak suka lagi denganku, maka kalau kau menemukankan pendampingmu yang baru, aku harap kasih tau aku.”

“iya insyaallah. Sekali lagi maaf”

3 bulan berlalu, terdengar kabar bahwa dia sudah mempunyai pacar baru. Hampir semua guru perempuan tau bahwa dia adalah pacarku dulu. Tapi saat ini pula, semua guru tau bahwa dia sudah memiliki pacar yang baru, kecuali aku.

Aku pun berusaha tanya kepada salah satu guru temannya, yang juga temanku, siapa pacar barunya.

“Wah aku gak bisa kasih tau pak. Tanya sendiri aja kedia.” jawab temanku.

Salah satu temanku laki-laki yang lain pun sudah tau berita bahwa aku tidak lagi sama dia, dan juga tau sekarang dia sama siapa. Aku pun bertanya dengan sedikit memaksa, tapi entah kenapa semua orang merahasiakannya dariku.

“Waduh gak tega aku pak, tanya dia langsung saja.”

Kenapa dengan semua orang? apa salahnya kalau aku tau?

Akhirnya karena terpaksa aku SMS dia langsung. Aneh rasanya setelah lama tidak SMS nomer yang paling sering muncul di inbox.

“Denger kabar kamu sudah punya pacar baru? benarkah?” tanyaku dengan nada tak tau.

“iya” balasnya singkat.

“Katanya mau kasih tau bila sudah menemukan yang baru. Tapi kenapa gak mau ngomong?”

“Akan aku kabari, tapi bukan sekarang. Aku butuh waktu.”

“Kenapa sih, berat ya ngasih tau gitu doang?”

“Pasti aku kabari.”

Pembicaraan itu pun berakhir. Aku tidak tau, aku sendiri yang mengakhiri hubungan tersebut, tapi sekarang ada cemburu saat dia sudah memiliki seseorang yang baru. Rasa khawatir juga menghantuiku. Entah resah dan ketidak tenangan hati ini melanda begitu saja.

Seminggu berlalu, datang SMS dari dia lagi.

“Aku sekarang sama dia*, dan kami sudah mau nikah”

Deg,..

Hatiku berasa remuk saat setelah aku membacanya.

Benarkah dia mengatakan itu? lalu apa maksud dari semua yang telah kita berdua lalui? bahkan aku tak pernah membuat masalah dengannya? kenapa dia begitu teganya seperti ini, apa aku hanya mainan buatnya?

Aku bahkan sudah berniatan baik, kenapa niat baikku ini salah menurutnya, aku bahkan menjaga kehormatanya dengan segera ingin melamarnya. Tapi apa yang telah dia perbuat sekarang? Sungguh hatiku hancur dibuatnya.

Kalau dia tak suka, kenapa tidak bilang dari dulu saja, kenapa harus sampai begini jadinya. Aku sangat menyayanginya.

“Ibuk apa kabar?” SMS nya lagi.

Ibuku sudah kenal baik sekali dengan dia, bahkan dia sudah menyiapkan tempat lemari jika dia menjadi istriku. Ibuku ingin sekali aku jadi dengan dia, karena dilihat cocok dengan kreteria yang ibu idamkan. Saking sukanya ibuku sama pacarku itu, ibu sering menanyakan kapan ingin melamarnya.

“Entah, ibuk memiliki harapan besar aku jadi denganmu” balasku.

“Aku gak bisa, aku sudah lamaran sama orang.”

“Kalau berani datang kerumahku, bicara langsung sama ibu.”

“ya aku usahakan”

Pembicaraan itu berahir.

Ibuku juga belum tau bahwa aku sudah tidak dengannya. Aku biasanya selalu cerita apa saja tentang aku dan pacarku, tapi kini, sudah tidak lagi.

Malam hari dia langsung datang kerumahku. Aku pun mempersilahkannya dengan berlaga sebiasa mungkin. Dia datang dengan salah satu temannya.

“buk.. ada Naya datang mau bicara sama ibuk.”

Ibuku senang sekali dengan kedatangan dia. Sudah lama dia tidak mampir berkunjung ke rumah.

Setelah itu aku meninggalkannya ke dalam rumah, aku tidak ingin mengganggu perbincangannya. Aku hanya mendengarkannya dari dalam ruang keluarga. Setelah berbasa basi, dia bilang

“Buk, maaf.”

“Kenapa nak?” kata ibuku.

“Aku gak bisa sama pak Qim. Naya belum siap.”

Ibuku hanya bisa mendengarkan dan tertergun, ingin sedih rasanya, tapi apa kuasa, ibuku hanya berharap dia jadi menantunya.

Lalu dia pergi dengan sopan, pamit kepada ibuku.

Setelah itu aku berbincang dengan ibuku di tempat yang sama. Aku mengatakan pada ibuku sesuatu kebenaran yang ditutupin oleh Naya.

“Ibuk dibohongi.” kataku.

“Dibohongi bagaimana nak?”

“Sebetulnya dia bukan tidak siap, tapi karena dia sudah memiliki orang lain, dan dia sudah ingin menikah”

Seketika itu ibu menangis dengan sangat derasnya. Harapannya yang besar hancur seketika itu meledak dengan tangis yang menderu. Semua hal yang dia siapkan itu sekarang sia-sia.

Aku juga tidak kuat menahan tangis, aku mencoba untuk menahan sekuat tenaga agar air ini tidak menetes. Tapi melihat ibuku terus saja menangis dalam waktu yang cukup lama, membuatku tak kuat untuk menahannya. Semalaman ibuku menangis tak henti-hentinya.

Hari pernikahan itu pun datang. Aku dapat undangan darinya, namun aku tak bisa datang. Aku tidak punya alasan sebenarnya, aku hanya tidak kuat melihatnya. Hati ini terlalu terluka dibuatnya, ditambah lagi karena ibuku yang begitu sedih atas sepeninggalannya. Entah apa aku bisa memaafkannya atau tidak.

Hari terus berlalu. Setiap hari aku berangkat mengajar, setiap hari pula aku bertemu dengannya. Dulu yang indah berada di sekolah, kini hatiku selalu sakit setiap melihatnya. Aku tidak kuat, sungguh tidak kuat.

Akhirnya aku putuskan untuk berhenti mengajar di sekolah itu. Walau harapan kepala sekolah adalah aku sebagai penggantinya tahun depan, cuma aku satu-satunya calon resmi menjadi kepala sekolah.

Tapi aku tidak kuat menahan luka ini. Seandainya aku meminta kepala sekolah untuk dia dikeluarkan, pastilah kepala sekolah langsung mengabulkannya. Tapi aku tidak begitu, biarlah aku saja yang keluar.

Semua guru tau bagaimana sakitnya perasaanku, bahkan kepala sekolah pun sudah tau. Kepala sekolah sampai tidak tega melihatku sampai seperti ini. Harapanya agar aku hanya cuti lalu kembali dan bisa mengajar lagi, dan jangan keluar. Namun aku yang memaksa untuk keluar.

Mungkin dengan tidak bertemu akan lebih baik. Mungkin luka ini juga bisa sembuh. Aku berharap waktu bisa mengobatinya. Rasa sayang ini terlalu dalam. Cinta ini terlalu tinggi untuk jatuh.

~ Cerita Sedih Cinta ~

Tamat-

Note :

dia* = Maaf kami samarkan dan tidak menunjukkan nama agar tidak terjadi salah paham antara penulis dan yang sangkutan. Tapi tetap cerita sedih ini sudah mendapatkan izin untuk dituliskan, dengan harapan bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang. Nama tokoh yang tertera juga nama samaran.

Cerita sedih ini berasal dari guru SMP saya sendiri, dia rela agar saya tuliskan dan katanya cerita sedih ini jika di jadikan novel cukup menarik, dan mungkin akan lebih seru. Saya tidak bisa detail menuliskan cerita sedih tersebut, ya setidaknya tidak sebaik penyampaian dari pelaku yang tertera dalam cerita sedih itu sendiri. Tapi gambaran besarnya seperti itu.

Dari cerita sedih di atas, menurut kalian pelajaran apa yang bisa di ambil?

Baca juga : Kisah Nyata Cerita Hantu Seram!

Cerita Sedih Cinta Romantis

cerita sedih
pexels.com

Biarlah Dia Saja yang Bahagia

Ada seorang guru yang ku kenal. Guru yang paling ku kagumi dan paling aku sayang, Rustiana namanya. Beliau adalah motivasiku. Sesosok wanita yang tangguh dan terhormat. Aku memanggilnya bunda. Dalam dirinya, kata pacaran tidak ada.

Terlihat dari kisah cintanya, dulu ..

“Mari kita berjanji bahwa kita tak akan pernah pacaran sampai lulu SMA” kata salah seorang dari tiga siswa SMA kelas 1 itu.

Di atas gedung sekolah, di bawah sinar bintang gemilang, 3 siswi itu berjanji untuk tidak pacaran sampai mereka lulus. Mereka pun sanggup untuk melaksanakannya.

Aku heran,

Meraka adalah murit yang baru lulus SMP, tapi sudah memiliki pemikiran seperti itu. Pasti bukanlah sembarangan orang yang bisa melakukannya.

Mungkin terlintas hanya untuk saat SMA, tapi bukan bagi bundaku. Sampai kuliah pun dia masih melakukan hal yang sama.

Kisah berawal dari kedatangnya seorang perempuan yang tidak di kenal ke rumah Bunda Rustiana.

“Apa ini rumah dari mbak Rustiana?”

“Iya benar.”

“Bisa kita bicara sebentar mbak”

“Boleh, silakan masuk”

Perempuan itu lebih muda dari bunda, terlihat dari paras mukanya dan pakaiannya.

Tiba-tiba saja perempuan itu tertunduk dan mendekap kaki bunda yang sedang duduk dikursi dengan menangis sejadi-jadinya.

“kamu kanapa?” tanya bunga.

Bunda semakin bingung dengan perempuan ini. Dia tidak kenal sama sekali, lalu tiba-tiba datang ke rumah dan sekarang dia menangis.

“a-aku mencintainya, sungguh mencintainya” kata perempuan itu tersendat.

Bunda semakin bingung, apa maksud dari perempuan ini.

Lalu dia menyebutkan nama (sebut saja) Rifqi.

Sekilas bunda langsung paham maksud dari wanita ini. Kenapa dia kesini, ada apa,  dan dengan maksud apa perempuan ini rela datang jauh-jauh untuk hanya bilang dia suka dengan seorang lelaki.

Rifqi adalah partner bunda berdakwah di kampus. Dia adalah ketua dari organisasi yang dijalani bersama. Begitu juga bunda, dia juga yang memegang dari pihak aktifis wanita. Ironisnya, mereka berdua saling suka, tapi tak saling mengatakan.

Mereka berdua saling menjaga hubungan, tidak ingin niatan dakwah mereka yang suci ternodai hanya karena cinta. Namun tidak bisa dipungkiri, setiap hari bertemu, berdiskusi dan merencanakan berbagai strategi bersama membuat dua insan tersebut, saling tumbuh cinta di dada mereka.

Terlihat dari cara SMS si laki-laki kepada bunda. Sangat berbeda dengan yang awal pertama jadi partner, mulai ada basa-basi yang tidak penting, dan bunda tau kalau lelaki itu suka dengannya. Namun tak ingin menurunkan izahnya, akhirnya bunda memendam rasa suka itu. Biarlah kelak suatu hari nanti dia menjadi cinta yang haqiqi dengan mencintai yang benar-benar sudah miliknya.

Perempuan yang tidak dikenal itu pun mengaku bahwa dia adalah adik kelasnya. Dia mendatangi rumah bunda karena tau, orang yang paling dekat dengan lelaki yang dia suka cumalah bunda.

Berceritalah perempuan tersebut bahwa dia siap untuk menjadi istrinya. Dia ingin bunda agar membantu mengatakan rasanya kepada lelaki idamanya. Perempuan itu tidak tau bahwa dalam dada bunda, terasa sesak setelah mendengar semua hal yang dia sampaikan.

Dilema.

Antara tetap bertahan atau merelakan.

Andai bunda bilang kepada lelaki tersebut “aku juga suka” mungkin itu sudah akan menjadi hal yang paling membahagiakan dalam hidup. Bertemu jodoh yang ia suka, dan dia juga suka dengannya. Kurang apalagi coba?

Tapi bundaku tidak seperti itu. Sedih? pasti, dia seorang perempuan. Galau? mungkin saja iya. Namun mungkin ada hikmah yang lebih baik dari semua cinta ini.

Mungkin yang sulit untuk melepaskannya adalah karena lelaki tersebut adalah termasuk lelaki yang sholeh. Dari dia memimpin, saat kumpul  dan berdiskusi dengan lawan jenis, dia tak pernah memandang kepada lawan diskusinya.

Hebatnya lagi adalah ketika adzan sudah dikumandangkan, dia langsung beranjak dari semua aktifitasnya, meskipun itu adalah sesuatu yang mengenai pekerjaannya, sepenting apapun dia tinggalkan untuk memenuhi panggilan adzan.

Saat lagi tertawa bersama, saat masih sibuknya diskusi bersama, saat kejadian penting pun yang membutuhkan jawaban dari ketua, dia tinggalkan.

Ganteng? jangan ditanya lagi. Dia idola sekampus.

Akhirnya perempuan itu pulang dengan jawaban yang membuat hatinya tenang. Bunda hanya memberi sedikit kata.

“iya saya usahakan bilang kepadanya. Insyaallah”

Sejenak setelah kepergian perempuan itu, bundaku tertegun, merenung harus bagaimana. Mungkin juga bila lelaki tersebut diberi tau tentang kejadian ini, dia pasti akan tetap memilih bunda.

Dalam malam di berdoa agar mendapat ketangguhan hati, dan dapat melangkah lebih pasti. Dia melakukan sholat istikhoroh.

Lalu akhirnya dia mendapatkan jawaban atas semua kejadian ini. Bundaku merelakan cintanya.

Suatu siang menjelang sore di kampus,

“Mas Rifqi, aku ingin ngomong serius.” kata bundaku.

“Jangan sekarang, habis ini sudah mau masuk waktu asar.” jawab lelaki tersebut.

“Oke habis asar.”

“Insyaallah”

Jam menunjukkan pukul 4 sore. Bunda yang dia bersama salah satu temanya menodong lelaki tersebut.

“Baiklah apa yang ingin kau katakan.” ujar lelaki tersebut.

“Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang serius. Tolong dengarkan baik-baik.”

“Baik.”

“Oke, bila ada seorang wanita yang mas cintai, dan mas juga mencintainya, apa yang akan mas lakukan bila ada seorang teman mas bilang bahwa dia juga mencintai wanita yang mas cintai?”

Seketika lelaki itu terdiam tanpa kata. Tak menyangka bahwa yang ditanyakan sesuatu hal yang menyakut perasaan. Beberapa menit berlalu tanpa ada obrolan.

“Apa?” kata bunda bosan menunggu.

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang”

“Lantas kapan?” jawab bunda tidak puas.

“Secepatnya insyaallah. Beri waktu aku untuk berfikir.”

Beberapa hari berlalu, lalu dia datang menghampiri bunda.

“Bagaimana?” kata bunda dengan penuh harap.

“Aku berusaha menjabab sebisaku, ku harap ini adalah jawaban yang terbaik.”

Bunda pun lebih menajamkan pendengarannya. Lalu dilanjutnya,

“Insyaallah aku akan merelakan orang yang aku cintai itu bersama orang lain.”

Bundaku pun tersenyum mendengar jawaban dari lelaki tersebut. Lalu diceritakan semua kejadian perempuan yang datang kepadanya pada beberepa malam yang lalu.

Akhirnya lelaki itu pun paham maksud dari pembicaraannya.

Beberapa tahun kemudian, setelah lelaki itu menikah degan wanita tersebut, datanglah bunda bersama teman-temannya untuk menjenguk dia yang sudah memiliki balita.

Bundaku menggendong balita kecil yang mirip dengan ayahnya tersebut, dan terdengar sekilas suara bisikan ayah dari balita tersebut saat melewati bunda.

“Seharunya ibu dari balita tersebut itu adalah kamu” kata lelaki tersebut.

Bundaku mengepalkan tangan kanannya kehadapan lelaki tersebut tanda mengancam. Semua orang yang di ruangan itu serentak melihat bunda, dan tercengang heran, ada apa sebetulnya yang terjadi.

Sejak saat itu, bunda jarang sekali berkunjung ke teman laki-laki walaupun hanya untuk melihat bayi dari temannya.

~ Cerita Sedih Cinta Romantis ~

-Tamat-

Note :

Cerita sedih di atas diambil dari cerita guru saya sendiri. Nama asli dari Rustiana Puji Astutik. Guru yang paling berpengaruh dalam hidup saya.

Dari cerita sedih di atas, menurut kalian pelajaran apa yang bisa di ambil?

 

Sekian beberapa cerita sedih yang semoga bisa menginspirasimu. Kesedihan tidak perlu di rasakan sampai mendalam, cukup jalani bagaimana mestinya, hadapi rasa sedih itu dengan tabah, maka kebahagian kelak akan datang dengan sendirinya.

Dari cerita sedih keluarga, cerita sedih cinta, dan cerita sedih cinta romantis, manakah yang menurutmu paling membuat sedih?

Sekian, ..

Salam dan Terimakasih! 🙂

1 thought on “[Kisah Nyata] Cerita Sedih : Cinta, Romantis, Keluarga”

  1. Memang cinta itu sulit untuk dilalui saat cinta bertepuk sebelah tangan. Tak ada satupun orang yang mau dilahirkan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta itu buta. Apapun dilakukan untuk mendapatkan cinta itu. Meski sakit, tak lantas cepat memadamkan rasa cinta itu. Mau dia seperti apa, mau orang lain memberi masukan apa, tapi kalau cinta masih ada di hati, tak akan ada bisa menghalangi. Kecuali kita meminta kepada Allah untuk memberi petunjuk apa yang harus kita lakukan. InsyaAllah, petunjuk itu akan terlihat sedikit demi sedikit. Allah lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Allah lah yang maha tau. Allah lah perencana yang baik walaupin kita berpikir kadang itu bukan pilihan kita. Tapi kita tidak tau akan ada hikmah apa kedelannya. Keep do positive thing. Semua pasrahkan kepada sang pencipta, Allah SWT.

Leave a Comment