Cerpen Mini : Kisah Inspirasi Hadi si Penjual Roti

Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Cerita kali ini kita akan bercerita tentang seseorang yang bernama Hadi, dengan statusnya sebagai penjual kue.. Bagaimana kunikannya? Langsung saja baca kisahnya berikut ini.

Daftar isi

Cerpen Mini

hadi si penjual roti
ilustrasi saja

Sebetulnya ini kisah yang penulis karang sudah lama sekali dan sempat diikutkan lomba. Namun tidak ada kejelasan dari pihak panitia apakah cerpen ini layak atau tidak. So di-upload di sini saja.. hehe, Oke semoga kalian menyukainya

Hadi si Penjual Roti

By : Muchi D. Ihsan

Pagi yang cerah, hari itu aku berkunjung kerumah temanku yang pastinya, dia sibuk untuk membuat roti. Dia asli Cepu tapi tinggal di desa Sedayulawas. Nur Hadi namanya, biasa dipanggil Hadi.

Sesampai disana dengan jarak tempuh 5 menit berjalan kaki, aku disambutnya hangat “hoi Aziz” sapanya ketika melihat ku dari kejahuan, setelah cukup dekat dengannya, aku jabat tangan dan menyalaminya “assalamu’alaikum”, “wa’alaikumussalam” jawabnya, “monggo-monggo” sambil senyum dia menyuruhku duduk.

Sekejap kemudian, ada piring berisi beberapa potong roti hangat yang baru saja matang dari oven besar pembuat roti miliknya, lebih tepatnya milik pamannya. “gimana kabar mu Had?” kataku. “Alhamdulillah baik” jawabnya manis.

“sambil di makan toh ya, sudah dibuatin juga” suruhnya dengan tertawa kecil. Aku pun membalas tertawanya lalu berkata “enak ya sekarang, udah maju Had bisnis roti mu, udah ada beberapa karyawan pula”. “iya, Alhamdulillah. inget perjuangan dulu yang merintis dari nol, yang susah payah untuk maju”. Katanya. “bisa kau ceritakan sedikit bagaimana usahamu dulu?” mintaku.

“ohh ya tentu, sebetulanya paman ku lah yang berperan penting karena bisnis roti ini, aku belajar dari dia, terlihat jelas masih ada oven besar yang diberikan pamanku, sampai aku bisa membuat roti olahan ku sendiri. Aku jadi karyawan paman ku hampir satu tahun, dan dari hasil bekerjaku, aku menabung sampai aku bisa membuka usahaku sendiri disini, tentunya dengan izin dari paman ku. Pertama aku membuat roti buatanku sendiri,  dan aku jual keliling di tetangga sebelah. Seperti para pemula dalam menjalani bisnis, pastilah jatuh bangun. Terlihat jelas pada hari pertama adalah hari yang sangat mengecewakan. Yah, karena pasti barang kita gak laku. Tentang rasa, harga dan tekturnya orang-orang belum percaya atas produk kita ziz. Rugi? kata yang pasti untuk hari itu. Tapi aku tak peduli untung atau rugi. Hari berikutnya aku buat lagi dan aku jual lagi, di tempat yang sama sebisaku menyajikan pada tetangga-tetangga, beberapa laku dan beberapa masih sisa. Aku jalani terus menerus, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan, sampai-sampai aku di juluki “Hadi si penjual roti. Dan mulai dari situ bisnisku berkembang, pelangganku makin banyak, tapi saat itu aku berfikir, kenapa penghasilanku masih sama, dari situ aku belajar buku-buku bisnis dan motivasi, dan akhirnya aku tau beberapa trik agar bisa mengembangkan bisnis roti ku, aku perluas penjualan dengan titip ke berbagai toko, walau untung dari penjualan harus dibagi, tapi tak masalah buatku. Aku sampai kualahan karena konsumen datang semakin banyak. Akhirnya aku putuskan cari seseorang agar membantuku, itu juga yang dialami paman ku. Aku karyawan pertamanya. Tidak berhenti sampai disitu, lama berjalan dengan mulus dan pada suatu hari, penghasilanku menurun, rotiku tidak selaris dulu, aku rugi besar. Hari demi hari tidak ada peningkatan malah hanya ada kerugian. Bahkan untuk menggaji karyawan pun aku kuwalahan pada saat itu. Lalu aku belajar dan belajar lagi, apa yang salah dengan roti ku, aku bertanya-tanya dalam hati sendiri, dan akhirnya aku beralih dari roti buatanku dulu yang pernah aku jual, menjadi roti-roti yang sekarang kau pandang saat ini. Ternyata aku menemukan kesalahan ku, bahwa konsumen bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Memang aku akui kalau dulu aku hanya membuat satu jenis roti saja. Tapi sekarang kamu bisa lihat dan rasakan sendiri, roti yang sekarang jauh lebih enak, lebih empuk, banyak farian rasanya pula.”

Pria dihadapan ku pun tertawa senang akan kerja kerasnya. Aku lihat piring yang berisi roti-roti buatannya dan memang benar, dari warna pun orang akan tertarik untuk mencicipinya. Ada berbagai warna disana. Ada warna coklat, yang menukjukan rasa yang sama dengan warnanya, pink yang menggambarkan rasa stroberri, ungu adalah anggur, putih rasa original dan beberapa warna roti lainnya.

Aku mengambil roti yang berwarna ungu, ku coba makan dan sesaat roti itu belum masuk ke mulut ku, dia dengan semangat berkata “ohh iyaa, harganya pun lebih mahal” sambil tertawa kecil bahagia. Ketika roti itu hancur di mulutku, tak ku sangka roti itu benar-benar enak, aku sampai terkejut tulus mengakui rasa roti buatanya. “enak” gumam ku sambil mengunyah roti rasa anggur tersebut. kenikmatan semakin bertambah saat sensasi hangat dari roti tersebut pecah ketika masuk ke dalam jantung mulut ku, juga sobekan roti yang masih mengepul bila dibelah di sisi tengah dan selai anggur yang meleleh membuat pagi hari yang cerah ini semakin indah.

Sejenak sambil menghabiskan roti yang aku genggam, aku berfikir membayangkan perjuangan teman ku ini, aku pun tak yakin bila aku sendiri yang mengalaminya dengan berbagai cobaan yang datang, jatuh bangun dan bahkan hampir bangkrut, tapi buah dari hasil kerja keras memang selalu manis. Sekarang dia memiliki tiga karyawan untuk membantunya membuat roti dengan perintah-perintahnya, dua karyawan untuk mengantarkan roti miliknya sampai ke kota sebelah. Cukup terbayar semua jerih payahnya.

Setelah menghabiskan roti anggur ku, aku menjabat tangannya dan memberi selamat kepadanya, “atas kerja keras mu yang tak kenal menyerah, wahai sobat, kau bisa sejauh ini. Dan juga berkat ketekunan mu juga mengasah skill yang kau miliki tentang roti, sampai kau bisa membuat roti mu sendiri, aku hanya bisa berdoa kepada mu agar kau diberi keberkahan dalam kerja keras mu”.

Lalu dia menjawab dengan senang “amin-amin” beberapa kali sampai aku mengambil roti dari piring dihadapanku lagi. Kami lanjutkan obrolan dengan membahas hal-hal yang lain, menghabiskan waktu pagi yang lama, membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan.

Salah satu kisah mengejutkan dari teman ku yang tak takut akan gagal dan terus berupaya memperbaiki diri, melakukan apa yang bisa dilakukannya dan berlatih, terus berlatih hingga kesuksesan menghampirinya.. J

Penutup

Mungkin cukup itu dulu cerita kali ini, jika kalian ingin cerita, opini dan pengalaman menarik juga inspiratif, ada nih blog yang saya rekomendasikan banget. Bisa deh kalian cek langsung di blog vatih. Blog tersebut membahas banyak hal yang sangat bermanfaat. Jangan dilewatkan loh yaa..

Jangan lupa kunjungi selalu web kami karena sebisa mungkin akan ada cerita-cerita menarik lainnya yang akan di-update setiap hari di, ceritaihsan.com.

Dah gitu aja yaa..

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

2 thoughts on “Cerpen Mini : Kisah Inspirasi Hadi si Penjual Roti”

Leave a Comment