Cerpen Mini : Sekar

Sekar – Halo semuanya, selamat datang di ceritaihsan.com. Kali ini ada cerpen dari temen SMP saya yang biasa dipanggil Indah. Langsung saja kalian baca saja, nih…

Daftar isi

Cerpen Mini

cerpen mini

SEKAR

By : Indah WulanMaulida

Kepada siapa harus aku jelaskan tentang apa yang aku mau, tentang apa yang aku inginkan, tentang cita-citaku, impianku, dan tentang semua yang ada dalam khayalan dan tentang apa yang kurasakan, tubuh ini kaku sekedar memakai celana dan baju sendiri pun tak mampu bahkan makan minum pun tangan ibuku yang membantu, untuk berbicara mulut ini pun tak bisa, berucap terimakasih kepada ibu pun tak mampu kulakukan, betapa diri ini telah merepotkan keluarga merepotkan semua disekitarku yang ada, bagaimana aku bisa berucap terimakasih?, dengan cara apa aku membalas budi?, hanya menengadahkan tangan berdo’a teruntuk semuanya,

ya hanya itu yang bisa aku lakukan, hanyaitu.

            13 tahun sudah rasanya hidup ini sia-sia tak mampu melakukan apa-apa, tubuh ibu pun semakin menua dan aku tak sanggup bila harus hidup tanpanya, kehilanganya bagaikan aku kehilangan hidupku juga, aku selalu perbincangkan ini dengan tuhan aku berkatapada_Nya teruntuk umurku agar tuhan lebih cepat mencabut nyawaku di banding ibuku, aku ingin melihat ibuku tersenyum hilang sudah beban hidupnya tanpa aku yang selalu merepotkanya.

            Satu hal yang kusuka dan yang mampu aku lakukan hanyalah “membaca” dan kujadikan itu sebagai hobiku, apapun aku baca dari comic, cerpen sampai novel yaitu semua aku pinjam dari kakak perempuanku yang juga suka membaca, memang bukunya tak mahal sekitar 10.000 bisa dapat novel satu bahkan dibelikan comic bisa dapat empat ya semua bukunya “KW’ tapi apa boleh buat untuk membeli yang asli uangnya tak mencukupi. Aku tahu semua lewat bon pembayaran yang aku baca. Aku lebih tertarik baca novel kisahnya panjang dan membuat penasaran meski dengan tertatih aku harus membalik lembar demi lembar halaman kertas berjumlah banyak itu.

            Aku juga ingin bisa menulis seperti mereka, membuat karya yang dapat dibaca oleh banyak orang, membuat mereka merasa sedih, tertawa, bahkan membuat mereka takut, sungguh teramat ingin tapi lagi-lagi persoalan tubuh ini sekedar memegang bolpoin atau pensil dengan tepatpun tak bisa selalu jatuh dan meleset, untuk menulis huruf “a” pun beberapa kali harus jatuh dan untuk memungutnya kembali pun teramat susah, sulit semua teramat sulit kulakukan, impian hanya sekadar impian membuat tulisan tak mampu kulakukan, padahal imajinasi membuat tulisan teramat banyak melayang-layang diotak dari jalan cerita nama tokoh dan alur cerita semua sudah kufikirkan, satu yang teramat ingin aku tulis adalah tentang ibu, aku ingin menulis akan isi hatiku kepadanya tentangaku yang selalu merepotkanya, mengganggu hidupnya dan yang lebih terpenting aku ingin menuliskan kata “terimakasih” dan “maaf” kepadanya hanya dua kata itu saja, tapi . . . . .

Sepertiga malam aku selalu dibangunkan oleh ibu mengajak sholat memohon dan berdo’a untuk kesembuhan dan itu kulakukan rutin, kali ini do’a yang kupanjatkan berbeda dari biasanya aku memohon tuhan menghadirkan seseorang yang mampu membaca fikiranku mampu mengerti suarahatiku.

            Dan tuhan mengabulkanya, dia seorang wanita berparas cantik, putih, rambut hitamnya lurus tergerai, dia datang tersenyum padaku menyuruhku memegang tangannya untuk diabisa mengetahui yang sedang aku fikirkan, aku menggenggam tanganya kufikirkan tentang ibu, pengorbanannya, keihlasanya dan tentang semua yang tak mampu ibu ketahui karena ketidak mampuanku untuk menjelaskan bahwa aku selalu menginggat setiap detail yang dia lakukan terhadapku, wanita itu lalu menulis yang sedanga ku fikirkan dalam secarik kertas tidak lupa aku sematkan kata maaf dan terimakasih untuk ibu dan itu tertera tepat diakhir cerita, selesai wanita itu menaruh lembaran kertas disamping tempat tidur ibu kemudian wanita itu pergi belum sempat aku berucap terimakasih. Indah teramat indah, yang aku inginkan mampu terjamah dengan bantuan wanita yang entah siapa namanya.

            Waktu telah pagi, ibu membangunkanku kali ini entah tidurku terlalu pulas malam ini, aku dimandikannya, sabun mandi tersemat disekujur badanku tercium wangi, dengan beberapa gayungan air, bersih badanku dikeringkan ya dengan handuk dipakaikannya baju dan celana, tak lupa juga bedak dan kunciran rambut yang selalu ibu buat terkadang aku berkuncirdua, satu terkadang dikepang, tak kutemui surat itu dikamar ibu kucari menoleh kesana kesini saat ibu sedang menguncir rambutku, lembaran itu tidak ada, sikap ibu kepadaku pun seperti biasanya tidak seperti yang aku bayangkan, ibu akan memelukku dengan kencang dan menciumi ku terus berulang-ulang, mungkin kah surat itu, dan wanita itu, aku bertanya-tanya dalam fikiran.

            Seperti biasa ibu mengajakku berbincang didepan rumah sembari memilah hasilgabah yang diperolehnya meski ibu tahu aku tidak bisa menyahuti omonganya. Wanita itu nyata kukira hanya bualan atau hasil imajinasiku saja wajahnya rambutnya semua sama dengan wanita itu diamendekat pada ibu menyalaminya dan menanyakan kabar, wanita itu menjelaskan bahwa dia anaknya bu arum tetangga sebelah yang baru pulang dari Jakarta karena ekspresi ibu yang sama sekali tak mengenalinya,

“oh kamu sekar to”

“enjeh bu, ini nindiya bu, sudah besar ya tambah cantik” (mengarah kantanganya untuk bersalaman denganku )

Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum saja, dan wanita itu menanyakan kepada ibu tentang umur, kesehatan dan apa yang senang aku lakukan, seakan mengerti dengan kondisiku wanita itum engangguk-anggukkan kepalanya dan sesekali melihat padaku dan membelai rambutku, kemudian wanita itu meminta izin untuk membawaku berjalan-jalan bersamanya, dan ibu mengizinkan.

            Tiba di sebuah tempat dengan pemandangan hamparan sawah yang mulai menguning wanita itu jongkok didepanku, menayaiku menuntun tak kumenjawab dengan jawabanya atau tidak tentu dengan menggelengkan kepala atau menggangguk saja,

“ kata ibumu kau suka membaca”

“ iya (menganggukkan kepala)”

“ biasanya orang yang suka membaca tentu juga ingin bisa menulis juga bukan? “

“ya”

“ apa yang ingin kautulis seandainya kau bisa menulis, apa tentang ibumu ?”

“ya”

“ kau ingin menulis tentang dia yang selalu bersamamu dengan keadaanmu yang seperti ini, selalu merawatmu sepanjang hari? “

“ ya “

“ boleh aku membantumu? “

“ yayaya ( aku anggukan kepala dengan semangat ) “

“ ok, kita mulai jika tulisanku salah kau gelengkan kepalamu “

Dan sekar mulai menulis tentang yang kurasakan bahkanpersis dengan yang kualami kata-katanya begitu indah mungkin jika aku yang menulis takakan bisa merangkai kata-kata yang begitu apik, tiba diakhir cerita sekar menuliskan kata “maaf dan terimakasih” persis seakan dia bisa membaca isi pikiraanku, sekar menoleh kepadaku meminta persetujuan dariku, aku mengagguk berulang kali.

“ kau ingin berucap terimakasih kepadaku juga bukan, aku tahu lewat ekspresi wajahmu, kita manusia bahkan kita bertetangga harus saling membantu, ya kan nin ? “

“ aku tersenyum sambil mengangguk “

Setelah surat selesai dibuat kami pulang, sekar menaruh bukunya dipangkuan ku, sesampainya dirumah sekar memberikan buku itu kepada ibu, dengan berlinang air mata ibu memelukku menciumiku takhenti-hentinya seperti yang kuharapkan,

“ nakibuakanselaludisampingmutakusahkaubilangmintamaafkarenakaumemangtanggunganibu “

Aku dan ibu menangis begitu juga sekar dia ikut menangis menyaksikan kami berpelukan dengan berlinang air mata.

Aku memandang sekar sekali lagi seperti pertama sekar datang berkunjung kerumah wajahnya rambutnya yang tergerai mirip wanita itu sangatlah mirip, ya wanita yang hanya berada dari mimpiku tapi seakan tuhan mengabulkan dalam nyata menghadirkan sekar untukku untuk menunaikan impianku.

-Tamat-

Mungkin itu dulu yang bisa kita sampaikan. Kami harap kamu suka dengan cerita ini.

Gitu dulu yaa..

Sekian,
Salam dan Terimakasih! 🙂

Leave a Comment